Camat Dagangan, Djoko Susilo, memimpin langsung kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Kecamatan Dagangan.
Dalam forum kesiapsiagaan bencana yang digelar di Kecamatan Dagangan, Rabu (12/11/2025), Fajar Andy, anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial Kabupaten Madiun, menyoroti persoalan klasik yang kerap muncul saat bencana terjadi: ketidaksinkronan data.
“Salah satu kendala terbesar ketika terjadi bencana adalah laporan data yang kurang sinkron,” ujar Fajar. Ia mencontohkan, pada saat terjadi bencana, arus informasi yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pimpinan, baik di jajaran TNI, Polri, maupun pemerintah daerah.
Namun, kondisi di lapangan kerap berbeda. Data awal yang diterima sering kali tidak sesuai dengan situasi faktual. “Di titik inilah koordinasi lintas sektor harus benar-benar maksimal. Karena ketika pimpinan membutuhkan data cepat dan akurat, informasi yang masuk justru tidak sama dengan fakta di lokasi,” katanya.
Menurut Fajar, validitas data sangat menentukan efektivitas penanganan bencana, mulai dari penyaluran logistik hingga perbaikan infrastruktur terdampak. Dengan koordinasi matang, kebutuhan masyarakat di wilayah kejadian dapat terpenuhi secara tepat dan cepat.
Camat Dagangan, Djoko Susilo, yang memimpin langsung kegiatan tersebut, mengatakan bahwa pihaknya sengaja mengumpulkan seluruh komponen masyarakat untuk memperkuat mitigasi. Dagangan diketahui memiliki sejumlah titik rawan bencana, termasuk tanah gerak yang kini tengah terjadi di Desa Mendak.
“Jajaran TNI, Polri, dan pemerintah desa dari 17 desa kami libatkan. Wilayah ini memiliki potensi bencana yang harus diantisipasi bersama,” ujarnya.
Djoko menegaskan perlunya kesigapan masyarakat untuk menghadapi ancaman bencana, bukan sekadar mengandalkan struktur pemerintahan. Ia mencontohkan tanah gerak di Desa Mendak yang membahayakan permukiman dan mengharuskan penanganan cepat. “Jangan sampai masyarakat tidak siap ketika bencana melanda,” kata Djoko.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya nilai-nilai sosial masyarakat sebagai modal utama penanggulangan bencana. “Yang lebih penting adalah sikap guyub rukun—saling peduli dan saling membantu antarwarga, meski bukan dari desa yang sama, ketika bencana terjadi,” ujarnya.
Selain unsur Muspika, kegiatan tersebut turut melibatkan organisasi pencak silat yang tergabung dalam IPSI. Djoko menilai kelompok pencak silat memiliki potensi besar untuk memperkuat jejaring relawan kebencanaan di Dagangan.
Dengan dukungan lintas sektor, pemerintah berharap kesiapsiagaan masyarakat semakin kuat—sehingga ketika bencana datang, warga tidak hanya siap menghadapi, tetapi juga mampu bangkit bersama. (mpk01).
