![]() |
| Ir. Tontro Pahlawanto |
Madiunpunyakita.com - Suasana haru menyelinap pelan dalam ruang Pendopo Muda Graha, Kamis siang (27/11/2025). Di tempat yang selama ini menjadi pusat arah kebijakan Kabupaten Madiun itu, puluhan pasang mata tertuju pada satu figur—tenang, bersahaja, duduk di barisan depan. Senyumnya tipis, matanya sesekali menunduk, seperti seseorang yang tengah menata kembali album panjang perjalanan.
Dialah Ir. Tontro Pahlawanto—lahir 10 November 1965—nama yang selama tiga dekade lebih menjadi irama dalam denyut birokrasi Madiun. Sejak 1 Agustus 1992 ia mulai menapaki jenjang ASN, dan tepat 1 Desember 2025 ia menutup masa pengabdiannya. 33 tahun bukan sekadar hitungan kalender. Itu adalah waktu yang ditempa dengan rapat, kebijakan, keputusan, dan konsistensi.
Karier Tontro bergerak pelan, rapi, tanpa gegap gempita publikasi. Tapi jejaknya menancap dalam.
Ia pernah menakhodai Bappeda Kabupaten Madiun sebelum kemudian dilantik menjadi Sekretaris Daerah pada 19 Januari 2016, di era Bupati Muhtarom. Tujuh tahun ia di posisi itu—masa yang tak singkat untuk memastikan roda pemerintahan berputar tanpa bunyi yang tak perlu.
Lalu 2023 datang. Tontro kembali naik ke panggung besar ketika dipercaya sebagai Penjabat (Pj) Bupati Madiun menggantikan Ahmad Dawami. 1,5 tahun ia menjaga stabilitas, melanjutkan agenda strategis, dan merawat ritme birokrasi. Tidak dengan retorika, tapi dengan ketelatenan kerja.
Rekan-rekannya menyebut Tontro sebagai pemimpin yang disiplin, tak banyak bicara namun tahu kapan harus bersuara. Video tron yang diputar sore itu berisi testimoni—singkat, tulus, penuh kenangan. Seolah menjadi catatan kaki dari perjalanan seorang birokrat yang bekerja dalam kesenyapan, tetapi meninggalkan gema panjang.
Ketika naik ke podium, suaranya pelan tapi jernih. Tidak panjang, tidak dramatis. Justru kesederhanaan itu yang membuat semuanya terasa menancap.
"Kalau selama saya bertugas ada yang terluka, saya minta maaf. Kalau ada yang kebablasan, itu semata tugas,” ucapnya.
Ia lalu menutup dengan pesan: kepemimpinan adalah pelayanan, jabatan hanyalah amanah yang sewaktu-waktu diambil kembali. Pemerintahan, katanya, harus berjalan dalam kolaborasi—antar OPD, antar manusia.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto ikut menyampaikan pesan penuh hormat. "Beliau itu tanggap ing sasmito. Sebelum saya bicara tugas, beliau sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Bupati.
“Purna tugas hanya administratif, tapi persaudaraan tetap abadi.”
Cinderamata diberikan. Tangisan kecil jatuh, mungkin dari mereka yang merasa pernah dibimbing, atau justru pernah ditegur. Namun semuanya paham: tegas tidak selalu keras, diam tidak selalu pasif.
Pensiun sering dianggap jeda—tapi tidak bagi mereka yang terbiasa berlari. Tontro mungkin tak lagi hadir dalam rapat strategis, tak lagi memegang palu kebijakan. Tetapi pengaruhnya berlanjut dalam cara para ASN bekerja, dalam cara birokrasi mengambil keputusan.
Ia menutup masa tugas bukan sebagai akhir sebuah kisah, melainkan awal sunyi dari babak baru.
Di Kabupaten Madiun, nama Tontro Pahlawanto mungkin akan tercatat di berkas kepegawaian dan SK pelantikan. Tetapi yang lebih penting—ia tertanam di ingatan, dalam karakter, dalam budaya kerja yang ia tinggalkan.
Ia pergi dari ruangan, tapi tidak dari sejarah.
