KEDIRI, madiunpunyakita.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun menutup secara permanen perlintasan sebidang tidak resmi (liar) di KM 172+5 petak jalan Kras–Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, menyusul insiden tertempernya KA 406 Commuter Line Dhoho dengan sepeda motor di lokasi tersebut.
Penutupan dilakukan oleh Unit Pengamanan (PAM) dan Unit Jalan Rel (JR) 7.13 Kediri dengan memasang patok menggunakan rel serta penutup dari bantalan besi agar akses tersebut tidak lagi dapat dilalui kendaraan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya normalisasi jalur sekaligus meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengatakan perlintasan liar memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan perjalanan kereta api maupun pengguna jalan.
"Keselamatan adalah prioritas utama KAI. Penutupan perlintasan liar merupakan langkah nyata untuk mencegah kecelakaan, menjaga sterilisasi jalur, serta memastikan perjalanan kereta api berlangsung aman, lancar, dan tepat waktu," ujar Tohari dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).
Penutupan perlintasan tersebut mendapat dukungan dari Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya Satuan Pelaksana Kediri, Dinas Perhubungan Kabupaten Blitar, Koramil Kras, Polsek Kras, serta Pemerintah Desa Jambean.
Menurut Tohari, KAI Daop 7 Madiun akan terus melakukan penutupan perlintasan liar di wilayah operasionalnya sebagai bagian dari mitigasi risiko kecelakaan. Masyarakat juga diimbau tidak membuka kembali perlintasan yang telah ditutup maupun membuat akses perlintasan baru secara ilegal karena membahayakan keselamatan dan melanggar ketentuan yang berlaku.
KAI juga mengingatkan pengguna jalan agar selalu mematuhi aturan saat melintasi perlintasan sebidang, yakni berhenti, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada kereta api yang akan melintas, serta mengutamakan perjalanan kereta api.
"Keselamatan perjalanan kereta api adalah tanggung jawab bersama. Kepatuhan masyarakat terhadap aturan di perlintasan menjadi kunci untuk mencegah kecelakaan," kata Tohari. (rls/ali).
